Danrem 174 / ATW

/media/images/danrem-buat-web

Photo Gallery

 

PRIHATIN DENGAN KONDISI ANAK SEKOLAH DI PEDALAMAN. BABINSA KORAMIL 1710-06/AGIMUGA BANTU MENGAJAR DIKARENAKAN KEKOSONGAN GURU PENGAJAR
 
 
Timika ̴̴ Kekurangan tenaga pengajar dirasakan sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar di pedalaman. Tenaga pengajar atau guru merupakan komponen terpenting yang harus ada di dalam proses belajar-mengajar di sekolah selain siswa itu sendiri. Tidak jarang saat siswa sudah semangat datang ke sekolah, mereka harus kecewa karena tidak ada guru yang datang. Perbandingan guru antara pedalaman dengan perkotaan memang sangat jauh berbeda, kalau di perkotaan kelebihan tenaga guru, di pedalaman tenaga guru masih sangat kurang.
 
 
Seperti yang dilakukan oleh Bintara Pembina Desa (Babinsa ) Kampung Wenin Koramil 1710-06/Agimuga Serda Ruslan, Siswa SD Inpres yang sudah bersemangat untuk datang belajar di sekolah, namun setibanya di dalam kelas, tidak ada guru yang datang untuk mengajar. Melihat hal tersebut, saat melintas di depan SD Inpres Distrik Jita , Serda Ruslan berkoordinasi dengan guru untuk membantu memberikan pelajaran terhadap siswa-siswi yang tidak ada gurunya di SD Inpres Kampung Wenin Distrik Jita Kab. Mimika, Senin (15/10/2018).
 
 
Serda Ruslan mengatakan, kegiatan ini sebagai salah satu pembinaan teritorial dari satuan Komando Kewilayahan kepada warga masyarakat yang berada di desa terpencil, dengan dibekali buku petunjuk dari guru lainnya, Serda Ruslan memberikan materi pelajaran sesuai dengan buku petunjuk yang diberikan agar tidak keluar jalur dari materi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa-siswi SD Inpres Senggi.
 
 
Menurut Babinsa Kampung Wenin tersebut bahwa keadaan siswa-siswi di sekolah pedalaman sangat jauh berbeda dengan siswa-siswi di perkotaan. Ini adalah potret umum siswa-siswi di pedalaman yang memang sangat memprihatinkan. Mereka umumnya hanya mempunyai satu atau dua buku tulis dengan satu pensil atau pulpen yang disimpan dalam tas kresek, mereka tidak memakai sepatu tetapi bersandal jepit atau malah kadang bertelanjang kaki. Seragam pun tidak setiap hari bisa dipakai oleh semua siswa-siswi yang datang ke sekolah. Walaupun demikian semangat mereka untuk menimba ilmu di bangku sekolah tak kalah besar jika dibandingkan dengan para pelajar yang ada di kota.
 
 
Kehadiran Serda Ruslan disambut gembira oleh murid-murid SD Inpres tersebut. Lebih lanjut disampaikan, Kampung Wenin yang jaraknya sekitar 7 kilometer dari Distrik Jita sebetulnya tidaklah jauh, namun karena medan jalan yang agak sulit membuat desa ini jarang tersentuh. “Sebagai seorang Babinsa, saya merasa terpanggil untuk berbagi ilmu kepada para siswa di sekolah tersebut,”ujarnya.
 
 
 “Guru-guru disini sebenarnya tidaklah kurang, tapi karena kurangnya kesadaran dari Oknum Individu guru tersebut maka mereka jarang masuk ke pedalaman dengan berbagai alasan, dan saya sebagai seorang Babinsa wajib mengunjungi sekolah, serta berkomunikasi sosial kepada masyarakat untuk mengetahui keluhan yang di rasakan warga Binaan saya” ungkapnya.
 
 
Ditempat terpisah, Salah satu guru yang selalu aktif di sekolah mengatakan, kegiatan seperti itu diharapkan dapat membantu anak-anak di dusun terpencil yang masih membutuhkan perhatian khusus karena berada di daerah pedalaman.
“Kehadiran TNI terutama Babinsa di sana menciptakan keakraban, terutama dengan anak usia sekolah. Mereka sangat senang dan bangga dengan kehadiran Babinsa di wilayah tersebut,”tuturnya.
Ditulis Oleh Penrem 174/ATW Tanggal 17-October-2018
Di Group berita Kategori umum
    Komentar
    Nama
    Email
    Web
    Komentar

    Pejabat

    Pendaftaran Prajurit

    Search

    Flag Counter